Skip to content

MEDIA PENDIDIKAN

13 Januari 2013

Memasuki abad 21 ini, kita berada pada jaman yang memiliki pendidikan dan teknologi yang relatif maju. Sudah sewajarnya bila negara Indonesia dan negara lain pada umumnya ingin menjadi negara yang maju. Namun, semua hal yang baik tidak selalu diiringi hal yang baik pula. Era pendidikan dan teknologi yang semakin maju sekarang ini menimbulkan dampak negatif pula khususnya bagi masyarakat. Masyarakat tengah mengalami degadrasi moral, krisis karakter, dan memudarnya rasa cinta tanah air.

Berbagai peristiwa atau kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita saksikan melalui TV maupun media cetak menunjukan betapa masyarakat kita dilanda degradasi jati diri. Seiring perjalanan waktu moral bangsa terasa semakin amburadul dan memprihatinkan, huru-hara dan kesewenangan terjadi dimanan-mana, tata krama pun hilang, nyawa seperti tak ada harga, korupsi menjadi-jadi bahkan telah dilakukan terang-terangan dan berjamaah, (Taufik Ismail). Berbagai bentuk kerusuhan yang diikuti penjarahan, pembunuhan dan pemerkosaan terjadi di berbagai daerah. Selain dari itu keutuhan dan ketahanan bangsa-pun terancam dengan terjadinya beberapa konflik di berbagai daerah seperti di Aceh, Maluku dan Papua.

Mahasiswa-mahasiswi yang berdemo dengan mengatas namakan masyarakat tak jarang malah merusak fasilitas umum, mengecewakan kepecaryaan yang telah diberikan dengan membabi buta berteriak sekenanya namun lupa bila membawa nama rakyat. Fenomena lain, mahasiswa universitas satu dengan yang lain bukannya bergotong royong membangun bangsa alih-alih disibukkan dengan percekcokan bahkan adu ketangguhan dalam tawuran satu sama lain. 

Masyarakat Indonesia seperti kehilangan prinsip dan nation dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, konsep Bhenika Tunggal Ika sudah mulai luntur dari jiwa-jiwa generasi sekarang. Jika Pendiri bangsa ini (the founding fathers) masih sempat menyaksikan kondisi bangsa saat ini tentu mereka akan sangat sedih dan menyesal. Bangsa Indonesia yang merdeka dengan mengorbankan segenap harta, jiwa dan raga harus menjadi bangsa yang tidak memiliki karakter (izzah), dan kehilangan prinsip kebangsaan.

Untuk menjawab semua fenomena tersebut, apakah yang harus kita lakukan? Tentunya sebagai pemuda dan mahasiswa yang diharapkan betul oleh bangsa, tidak sepantasnya hanya menjadi orang ketiga yang hanya bisa menyaksikan kengerian yang terjadi di negeri ini. Tidak bisa hanya berdiam diri saja, namun harus melakukan sesuatu tentunya.

Upaya-upaya dilakukan guna mengatasi degradasi moral dan krisis karakter khususnya yang dialami oleh mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa, salah satunya melalui pendidikan karakter. Karakter menjadi poin utama dalam mengatasi krisis yang terjadi pada bangsa ini.

Tema Hardiknas-Harkitnas pada tahun 2011 adalah “Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa” dengan subtema “Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti”. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya menegaskan, ke depan kita menginginkan muncul dan berkembangnya manusia-manusia Indonesia yang unggul karena kita sebagai bangsa, di abad ke-21 ingin menjadi negara maju.

Presiden SBY dalam pidatonya, mengutip Aristoteles, mengatakan ada dua keunggulan manusia (human excellent): pertama, keunggulan dalam pemikiran; dan kedua, keunggulan dalam karakter. Kedua jenis keunggulan manusia itu dapat dibangun, dibentuk, dan dikembangkan melalui pendidikan. “Sasaran pendidikan bukan hanya kecerdasan, ilmu dan pengetahuan, tetapi juga moral, budi pekerti, watak, nilai, perilaku, mental dan kepribadian yang tangguh, unggul dan mulia, inilah karakter,” pesan Presiden.

Guna memenuhi harapan tersebut, maka dirumuskanlah program pendidikan karakter yang terpadu dengan semangat kebangsaan. Selain itu, semangat religiositas juga sangat mendesak untuk dikembangkan demi terciptanya suasana damai dan saling menyayangi antarsesama makhluk Tuhan di muka bumi. Pendidikan karakter merupakan jawaban yang utuh dari berbagai kegelisahan dan keterpurukan yang masih mencengkeram bangsa Indonesia.

Karakter bangsa merupakan pilar penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia ibarat kemudi dalam wahana berbangsa dan bernegara. Bagi bangsa Indonesia, jelas bahwa kemudinya adalah Pancasila yang merupakan falsafah bangsa.

Tujuan dari pembangunan karakter adalah untuk mengembangkan karakter bangsa agar mampu mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila. Pembangunan karakter ini berfungsi untuk mengembangkan potensi dasar agar berbaik hati, berpikiran baik, dan berperilaku baik; memperbaiki perilaku yang kurang baik dan menguatkan perilaku yang sudah baik; serta menyaring budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Ruang lingkup pembangunan karakter ini mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.

Pendidikan karakter diwujudkan dalam berbagai strategi seperti pendidikan karakter yang disisipkan dalam pendidikan formal. Hal tersebut tentu dirasa masih sangat kurang untuk mewujudkan karakter mahasiswa seperti yang diharapkan.

Pramuka menjadi salah satu media yang dapat dilakukan sebagai strategi pendidikan karakter mahasiswa untuk bangsa yang lebih maju. Dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka pasal 4 dijelaskan bahwa, Gerakan Pramuka mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi kaum muda guna menumbuhkan tunas bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik, bertanggungjawab, mampu membina dan mengisi kemerdekaan serta membangun dunia yang lebih baik. Pasal 5, Gerakan Pramuka berfungsi sebagai penyelenggara pendidikan nonformal di luar sekolah dan di luar keluarga dan sebagai wadah pembinaan dan pengembangan kaum muda dengan menerapkan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan serta berlandaskan Sistem Among.

Sistem Among yang digunakan oleh Gerakan Pramuka adalah sebagaimana Sistem Among Ki Hadjar Dewantara (Bapak Pendidikan Indonesia). Ki Hadjar Dewantara menggunakan “Sistem Among” sebagai perwujudan konsepsi beliau dalam menempatkan anak sebagai sentral proses pendidikan. Dalam Sistem Among, maka setiap pamong sebagai pemimpin dalam proses pendidikan diwajibkan bersikap: Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, dan Tutwuri handayani (MLPTS, 1992: 19-20).

 

  1. a.            Ing Ngarsa Sung Tuladha

Ing ngarsa berarti di depan, atau orang yang lebih berpengalaman dan atau lebih berpengatahuan. Sedangkan tuladha berarti memberi contoh, memberi teladan (Ki Muchammad Said Reksohadiprodjo, 1989: 47). Jadi ing ngarsa sung tuladha mengandung makna, sebagai among atau pendidik adalah orang yang lebih berpengetahuan dan berpengalaman, hendaknya mampu menjadi contoh yang baik atau dapat dijadikan sebagai “central figure” bagi siswa.

  1. b.            Ing Madya Mangun Karsa

Mangun karsa berarti membina kehendak, kemauan dan hasrat untuk mengabdikan diri kepada kepentingan umum, kepada cita-cita yang luhur. Sedangkan ing madya berarti di tengah-tengah, yang berarti dalam pergaulan dan hubungannya sehari-hari secara harmonis dan terbuka. Jadi, ing madya mangun karsa mengandung makna bahwa pamong atau pendidik sebagai pemimpin hendaknya mampu menumbuhkembangkan minat, hasrat dan kemauan anak didik untuk dapat kreatif dan berkarya, guna mengabdikan diri kepada cita-cita yang luhur dan ideal.

  1. c.             Tutwuri Handayani

Tutwuri berarti mengikuti dari belakang dengan penuh perhatian dan penuh tanggung jawab berdasarkan cinta dan kasih sayang yang bebas dari pamrih dan jauh dari sifat authoritative, possessive, protective dan permissive yang sewenang-wenang. Sedangkan handayani berarti memberi kebebasan, kesempatan dengan perhatian dan bimbingan yang memungkinkan anak didik atas inisiatif sendiri dan pengalaman sendiri, supaya mereka berkembang menurut garis kodrat pribadinya.

Gerakan pramuka dalam beragam kegiatannya, tidak hanya mengajarkan namun mendidik pemuda agar memiliki kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor yang tinggi. Jadi, tidak melulu aspek intelektualnya saja yang diasah namun aspek tingkah laku dan budi pekertinya pula yang dibentuk.

Selama ini pemuda bangsa, baik itu mahasiswa, siswa sekolah menengah bahkan otang tua sekalipun, memiliki pemikiran dan pandangan yang kurang bijak terhadap pramuka. Sesungguhnya banyak nilai-nilai yang dapat diperoleh dari beragam kegiatan pramuka antara lain, sopan santun, tanggung jawab, berani, disiplin, religius, jujur, toleran, kerja keras, cerdas, kreatif, terampil, mandiri, demokratis, kritis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, rajin, peduli sosial, peduli lingkungan, dan masih banyak lainnya.

Gerakan pramuka menyiapkan pemuda bangsa agar menjadi insan yang berbudi luhur sebagai tonggak kemajuan bangsa. Dalam motto Gerakan Pramuka “Satyaku Kudharmakan, Dharmaku Kubaktikan” dan “Ikhlas Bhakti, Bina Bangsa” tersirat arti yang mendalam bagi seorang pramuka untuk mengabdikan diri demi kesejahteraan dan kemajuan bangsa.

Jadi, pramuka sesungguhnya menjadi salah satu media yang baik bagi mahasiswa, pemuda Indonesia dalam pendidikan karakter demi kemajuan bangsa. Satyaku Kudharmakan, Dharmaku Kuhaktikan. Ikhlas Bhakti Bina Bangsa, Jayalah Pramuka, Jayalah Pemuda Indonesia, Jaya Indonesiaku!

From → Tak Berkategori

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: